Senin, 21 Oktober 2013

Perencanaan

1. KONSEP PERENCANAAN
Perencanaan merupakan suatu rangkaian kegiatan yang sistematis untuk
menyusun rencana berdasarkan kajian rinci tentang keadaan masa kini dan
perkiraan keadaan yang akan muncul dimasa mendatang berdasarkan pada fakta
dan bukti. Pada dasarnya rencana adalah alat manajemen yang berfungsi
membantu organisasi atau program agar dapat berkinerja lebih baik dan
mencapai tujuan secara lebih efektif dan efisien.
Perencanaan yang baik bersifat :
· berbasis data / informasi / fakta yang akurat tentang situasi epidemiologis dan
program
· berjangka menengah atau panjang, biasanya 5 tahun. Mempunyai jangkauan
ke depan yang memberikan tantangan dalam pelaksanaannya
· umum, menyeluruh dan biasanya dijabarkan lebih lanjut dalam rencana kerja
atau rencana opersional yang lebih rinci.
· lentur, dinamis, tidak statis, tanggap terhadap berbagai perubahan penting
yang terjadi dillingkungan tempat dan waktu berlakunya rencana.
Tujuan dari perencanaan adalah tersusunnya rencana program, tetapi proses ini
tidak berhenti disini saja karena setiap pelaksanaan program tersebut harus
dipantau agar dapat dilakukan koreksi dan dilakukan perencanaan ulang untuk
perbaikan program.

2. PENYUSUNAN PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN
Perencanaan merupakan suatu siklus yang meliputi:
a. Pengumpulan data
b. Analisa situasi
c. Menetapkan masalah prioritas dan pemecahannya.
d. Menetapkan tujuan, sasaran, indikator
e. Menyusun rencana kegiatan pengangaran,
f. Menyusun rencana pemantauan dan evaluasi.
A. Pengumpulan data
Data yang diperlukan meliputi data kesehatan dan data pendukung dari
berbagai sektor terkait. Data yang diperlukan untuk tahap analisa masalah
adalah:
· Data Umum
Mencakup data geografi dan demografi (penduduk, pendidikan, sosial
budaya, ekonomi) serta data lainnya (jumlah fasilitas kesehatan, organisasi
masyarakat).
Data ini diperlukan untuk menetapkan target, sasaran dan strategi
operasional lainnya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi masyarakat.
· Data Program
Meliputi data tentang beban TB, pencapaian program (penemuan pasien,
keberhasilan diagnosis, keberhasilan pengobatan), resistensi obat serta data
tentang kinerja institusi lainnya. Data ini diperlukan untuk dapat menilai apa
yang sedang terjadi, sampai dimana kemajuan program, masalah apa yang
dihadapi dan rencana apa yang akan dilakukan.
· Data Sumber Daya
Meliputi data tentang tenaga (man), dana (money), logistik (material), dan
metodologi yang digunakan (method). Data ini diperlukan untuk mengidentifikasikan
sumber-sumber yang dapat dimobilisasi sehingga dapat
menyusun program secara rasional, sesuai dengan kemampuan tiap-tiap
daerah.
Disamping untuk perencanaan, data tersebut dapat dimanfaatkan untuk
berbagai hal seperti advokasi, diseminasi informasi serta umpan balik.
B. Analisa situasi
Analisis situasi dapat meliputi analisis terhadap lingkungan internal program (kekuatan
dan kelemahan) dan analisis lingkungan eksternal program
(peluang dan ancaman). Dari analisis ini kita dapat menyusun isu-isu
strategis, termasuk didalamnya identifikasi masalah.
Identifikasi masalah dimulai dengan melihat adanya kesenjangan antara
pencapaian dengan target/tujuan yang ditetapkan.
Dari kesenjangan yang ditemukan, dicari masalah dan penyebabnya. Untuk
memudahkan, masalah tersebut dikelompokkan dalam input dan proses, agar
tidak ada yang tertinggal dan mempermudah penetapan prioritas masalah
dengan berbagai metode yang ada seperti metode “tulang ikan” (fish bone
analysis), pohon masalah dan log frame. Komponen yang dianalisis terdiri
dari 5M (man, money, material, method, dan market).
C. Menetapkan prioritas masalah dan pemecahannya
Pemilihan masalah harus dilakukan secara prioritas dengan
mempertimbangkan sumber daya yang tersedia, karena dengan menentukan
masalah yang akan menjadi prioritas maka seluruh sumber daya akan
dialokasikan untuk pemecahan masalah tersebut. Hal-hal utama yang perlu
dipertimbangkan dalam memilih prioritas, antara lain :
a. Daya ungkitnya tinggi, artinya bila masalah itu dapat diatasi maka
masalah lain akan teratasi juga.
b. Kemungkinan untuk dilaksanakan (feasibility), artinya upaya ini mungkin
untuk dilakukan.
Dengan memperhatikan masalah prioritas dan tujuan yang ingin dicapai,
dapat diidentifikasi beberapa alternatif pemecahan masalah. Dalam
menetapkan pemecahan masalah, perlu ditetapkan beberapa alternatif
pemecahan masalah yang akan menjadi pertimbangan pimpinan untuk
ditetapkan sebagai pemecahan masalah yang paling baik. Pemilihan
pemecahan masalah harus mempertimbangkan pemecahan masalah
tersebut memiliki daya ungkit terbesar, sesuai dengan sumber daya yang ada
dan dapat dilaksanakan sesuai dengan waktu yang ditetapkan.
D. Menetapkan Tujuan, target dan indikator
Tujuan yang akan dicapai ditetapkan berdasar kurun waktu dan kemampuan
tertentu. Tujuan dapat dibedakan antara tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan
umum biasanya cukup satu dan tidak terlalu spesifik. Tujuan umum dapat
dipecah menjadi beberapa tujuan khusus yang lebih spesifik dan terukur.
Beberapa syarat yang diperlukan dalam menetapkan tujuan antara lain
(SMART):
· Terkait dengan masalah (Spesific)
· Terukur (Measurable)
· Dapat dicapai (Achievable)
· Relevan, rasional (Realistic)
· Memiliki target waktu (Timebound).
E. Menyusun Rencana Kegiatan dan Penganggaran
Tujuan jangka menengah dan jangka panjang, tidak dapat dicapai sekaligus
sebab banyak masalah yang harus dipecahkan sedang sumber daya terbatas,
oleh sebab itu perlu ditetapkan prioritas pengembangan program dengan
memperhatikan mutu strategi DOTS. Untuk itu implementasi pengembangan
program dilakukan secara bertahap, dengan prinsip efektifitas, efisiensi, :
1. Mempertahankan Mutu
Mutu strategi DOTS mutlak harus dipertahakan sebelum meningkatkan
cakupan program. Mutu strategi DOTS mencakup segala aspek mulai dari
penemuan, diagnosis pasien, pengobatan dan penanganan pasien (case
holding), sampai pada pencatatan pelaporan. Masing-masing aspek tersebut,
perlu dinilai semua unsurnya, apakah sudah sesuai dengan standar yang
telah ditetapkan.
2. Pengembangan Wilayah
Tiap kabupaten/kota diharuskan merencanakan tahapan pengembangan
sarana pelayanan kesehatan yang ada di wilayahnya masing-masing.
Pemilihan pentahapan pengembangan dapat didasarkan pada:
1) Besarnya masalah : Perkiraan jumlah pasien TB BTA Positif
2) Daya ungkit : Jumlah penduduk, kepadatan penduduk dan
tingkat sosial-ekonomi masyarakat.
3) Kesiapan : Tenaga, sarana dan kemitraan.
Misalnya, pada tahap awal, pengembangan dilakukan terhadap Puskesmas.
Setelah itu baru rumah sakit, BBKPM/BKPM/BP4, RSP, dokter praktek
swasta (DPS) dan instansi pelaksana lainnya. Pengembangan DOTS
diharapkan dapat dimulai dengan Puskesmas dahulu untuk memantapkan
jejaring baru melakukan pengembangan ke Rumah Sakit.
3. Peningkatan Cakupan dan meningkatkan angka keberhasilan
pengobatan
Peningkatan cakupan dan meningkatkan angka keberhasilan pengobatan
ini menjadi sangat penting, karena akan memberikan dampak epidemiologis,
yaitu penurunan prevalensi.
4. Pemetaan Wilayah
Untuk menyusun perencanaan yang baik, perlu dilakukan pemetaan terhadap
wilayah yang dapat meliputi:
· Unit pelaksana, misal: jumlah RS, jumlah puskesmas, poliklinik
· Sumber daya, misal; jumlah dan jenis tenaga terlatih, sumber dana,
ketersediaan OAT, jumlah sarana dan prasarana.
· Cakupan pelayanan, misal: cakupan penemuan dan pengobatan.
· Mutu pelayanan, misal: diagnosa sesuai standar, kesalahan laboratorium,
pencatatan yang baku.
· Situasi penyakit.
5. Penetapan Sasaran dan Target
· Sasaran Wilayah
Sasaran wilayah ditetapkan dengan memperhatikan besarnya masalah,
daya ungkit dan kesiapan daerah.
· Sasaran Penduduk
Sasaran pada dasarnya adalah seluruh penduduk di wilayah tersebut.
· Penetapan Target
Target ditetapkan dengan memperkirakan jumlah pasien TB baru yang
ada disuatu wilayah yang ditetapkan secara nasional.
6. Penyusunan Anggaran
Penyusunan kebutuhan anggaran harus dibuat secara lengkap, dengan
memperhatikan prinsip-prinsip penyusunan program dan anggaran terpadu.
Pembiayaan dapat diidentifikasi dari berbagai sumber mulai dari anggaran
pemerintah dan berbagai sumber lainnya, sehingga semua potensi sumber
dana dapat dimobilisasi. Perlu diperhatikan bahwa penyusunan anggaran
didasarkan pada kebutuhan program, sedangkan pemenuhan dana harus

diusahakan dari berbagai sumber. Dengan kata lain disebut program
oriented, bukan budget oriented. Secara umum prinsip dan langkah
menyusun rencana kegiatan dan penganggaran dapat dilakukan sebagai
berikut:
· Daftarlah semua kegiatan pada masing masing strategi yang akan
dilakukan untuk tercapainya tujuan program
· Tentukan pembiayaan yang paling memungkinkan untuk masing-masing
kegiatan.
· Prioritaskan dana pemerintah daerah untuk masing-masing kegiatan
prioritas. Adanya dana pemerintah daerah dapat mengindikasikan bahwa
pembiayaannya akan lebih berkesinambungan atau setidaknya
menunjukkan adanya sharing budget.
· Perhatikan adanya kesenjangan antara daftar kegiatan yang prioritas
dengan kegiatan yang didanai. Kesenjangan pendanaan ini dapat ditutupi
dengan mengajukan bantuan donor.
· Hindari kondisi ketergantungan terhadap donor. Dana pemerintah pusat
maupun daerah merupakan dana utama kegiatan program, sementara
dana donor merupakan dana pendukung atau pelengkap.

7. Perumusan Perencanaan
Setelah selesai dengan langkah penyusunan perencanaan di atas, maka tiap
unit kerja diwajibkan merumuskan perencanaan secara lengkap dengan
urutan seperti dibawah ini:
a. Pendahuluan
b. Analisis situasi dan besarnya masalah
c. Prioritas masalah
d. Tujuan
e. Sasaran dan target
f. Kegiatan:
g. Monitoring dan Evaluasi

F. Menyusun Rencana Pemantauan dan Evaluasi
Dalam perencanaan perlu disusun rencana pemantauan dan evaluasi. Hal-hal
yang perlu diperhatikan dalam menyusun rencana pemantauan dan evaluasi
meliputi:
1. Jenis-jenis kegiatan dan indikator,
2. Cara pemantauan,
3. Pelaksana (siapa yang memantau),
4. waktu dan frekuensi pemantauan (bulanan/triwulan/tahunan),

5. Rencana tindak lanjut hasil pemantauan dan evaluasi.