1. KONSEP PERENCANAAN
Perencanaan merupakan
suatu rangkaian kegiatan yang sistematis untuk
menyusun rencana
berdasarkan kajian rinci tentang keadaan masa kini dan
perkiraan keadaan
yang akan muncul dimasa mendatang berdasarkan pada fakta
dan bukti. Pada
dasarnya rencana adalah alat manajemen yang berfungsi
membantu organisasi
atau program agar dapat berkinerja lebih baik dan
mencapai tujuan
secara lebih efektif dan efisien.
Perencanaan yang baik
bersifat :
· berbasis data /
informasi / fakta yang akurat tentang situasi epidemiologis dan
program
· berjangka menengah
atau panjang, biasanya 5 tahun. Mempunyai jangkauan
ke depan yang
memberikan tantangan dalam pelaksanaannya
· umum, menyeluruh dan
biasanya dijabarkan lebih lanjut dalam rencana kerja
atau rencana
opersional yang lebih rinci.
· lentur, dinamis,
tidak statis, tanggap terhadap berbagai perubahan penting
yang terjadi
dillingkungan tempat dan waktu berlakunya rencana.
Tujuan dari
perencanaan adalah tersusunnya rencana program, tetapi proses ini
tidak berhenti disini
saja karena setiap pelaksanaan program tersebut harus
dipantau agar dapat
dilakukan koreksi dan dilakukan perencanaan ulang untuk
perbaikan program.
2. PENYUSUNAN PERENCANAAN
DAN PENGANGGARAN
Perencanaan merupakan
suatu siklus yang meliputi:
a. Pengumpulan data
b. Analisa situasi
c. Menetapkan masalah
prioritas dan pemecahannya.
d. Menetapkan tujuan,
sasaran, indikator
e. Menyusun rencana
kegiatan pengangaran,
f. Menyusun rencana
pemantauan dan evaluasi.
A. Pengumpulan data
Data yang diperlukan
meliputi data kesehatan dan data pendukung dari
berbagai sektor terkait.
Data yang diperlukan untuk tahap analisa masalah
adalah:
· Data Umum
Mencakup data
geografi dan demografi (penduduk, pendidikan, sosial
budaya, ekonomi)
serta data lainnya (jumlah fasilitas kesehatan, organisasi
masyarakat).
Data ini diperlukan
untuk menetapkan target, sasaran dan strategi
operasional lainnya
yang sangat dipengaruhi oleh kondisi masyarakat.
· Data Program
Meliputi data tentang
beban TB, pencapaian program (penemuan pasien,
keberhasilan
diagnosis, keberhasilan pengobatan), resistensi obat serta data
tentang kinerja
institusi lainnya. Data ini diperlukan untuk dapat menilai apa
yang sedang terjadi,
sampai dimana kemajuan program, masalah apa yang
dihadapi dan rencana
apa yang akan dilakukan.
· Data Sumber Daya
Meliputi data tentang
tenaga (man), dana (money), logistik (material), dan
metodologi yang
digunakan (method). Data ini diperlukan untuk mengidentifikasikan
sumber-sumber yang
dapat dimobilisasi sehingga dapat
menyusun program
secara rasional, sesuai dengan kemampuan tiap-tiap
daerah.
Disamping untuk
perencanaan, data tersebut dapat dimanfaatkan untuk
berbagai hal seperti
advokasi, diseminasi informasi serta umpan balik.
B. Analisa situasi
Analisis situasi
dapat meliputi analisis terhadap lingkungan internal program (kekuatan
dan kelemahan) dan
analisis lingkungan eksternal program
(peluang dan
ancaman). Dari analisis ini kita dapat menyusun isu-isu
strategis, termasuk
didalamnya identifikasi masalah.
Identifikasi masalah
dimulai dengan melihat adanya kesenjangan antara
pencapaian dengan
target/tujuan yang ditetapkan.
Dari kesenjangan yang
ditemukan, dicari masalah dan penyebabnya. Untuk
memudahkan, masalah
tersebut dikelompokkan dalam input dan proses, agar
tidak ada yang tertinggal
dan mempermudah penetapan prioritas masalah
dengan berbagai
metode yang ada seperti metode “tulang ikan” (fish bone
analysis), pohon masalah dan
log frame. Komponen yang dianalisis terdiri
dari 5M (man, money,
material, method, dan market).
C. Menetapkan
prioritas masalah dan pemecahannya
Pemilihan masalah
harus dilakukan secara prioritas dengan
mempertimbangkan
sumber daya yang tersedia, karena dengan menentukan
masalah yang akan
menjadi prioritas maka seluruh sumber daya akan
dialokasikan untuk
pemecahan masalah tersebut. Hal-hal utama yang perlu
dipertimbangkan dalam
memilih prioritas, antara lain :
a. Daya ungkitnya
tinggi, artinya bila masalah itu dapat diatasi maka
masalah lain akan
teratasi juga.
b. Kemungkinan untuk
dilaksanakan (feasibility), artinya upaya ini mungkin
untuk dilakukan.
Dengan memperhatikan
masalah prioritas dan tujuan yang ingin dicapai,
dapat diidentifikasi
beberapa alternatif pemecahan masalah. Dalam
menetapkan pemecahan
masalah, perlu ditetapkan beberapa alternatif
pemecahan masalah
yang akan menjadi pertimbangan pimpinan untuk
ditetapkan sebagai
pemecahan masalah yang paling baik. Pemilihan
pemecahan masalah
harus mempertimbangkan pemecahan masalah
tersebut memiliki
daya ungkit terbesar, sesuai dengan sumber daya yang ada
dan dapat
dilaksanakan sesuai dengan waktu yang ditetapkan.
D. Menetapkan Tujuan,
target dan indikator
Tujuan yang akan
dicapai ditetapkan berdasar kurun waktu dan kemampuan
tertentu. Tujuan
dapat dibedakan antara tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan
umum biasanya cukup
satu dan tidak terlalu spesifik. Tujuan umum dapat
dipecah menjadi
beberapa tujuan khusus yang lebih spesifik dan terukur.
Beberapa syarat yang
diperlukan dalam menetapkan tujuan antara lain
(SMART):
· Terkait dengan masalah
(Spesific)
· Terukur (Measurable)
· Dapat dicapai (Achievable)
· Relevan, rasional (Realistic)
· Memiliki target waktu
(Timebound).
E. Menyusun Rencana
Kegiatan dan Penganggaran
Tujuan jangka
menengah dan jangka panjang, tidak dapat dicapai sekaligus
sebab banyak masalah
yang harus dipecahkan sedang sumber daya terbatas,
oleh sebab itu perlu
ditetapkan prioritas pengembangan program dengan
memperhatikan mutu
strategi DOTS. Untuk itu implementasi pengembangan
program dilakukan
secara bertahap, dengan prinsip efektifitas, efisiensi, :
1. Mempertahankan
Mutu
Mutu strategi DOTS
mutlak harus dipertahakan sebelum meningkatkan
cakupan program. Mutu
strategi DOTS mencakup segala aspek mulai dari
penemuan, diagnosis
pasien, pengobatan dan penanganan pasien (case
holding), sampai pada
pencatatan pelaporan. Masing-masing aspek tersebut,
perlu dinilai semua
unsurnya, apakah sudah sesuai dengan standar yang
telah ditetapkan.
2. Pengembangan
Wilayah
Tiap kabupaten/kota
diharuskan merencanakan tahapan pengembangan
sarana pelayanan
kesehatan yang ada di wilayahnya masing-masing.
Pemilihan pentahapan
pengembangan dapat didasarkan pada:
1) Besarnya masalah :
Perkiraan jumlah pasien TB BTA Positif
2) Daya ungkit :
Jumlah penduduk, kepadatan penduduk dan
tingkat
sosial-ekonomi masyarakat.
3) Kesiapan : Tenaga,
sarana dan kemitraan.
Misalnya, pada tahap
awal, pengembangan dilakukan terhadap Puskesmas.
Setelah itu baru
rumah sakit, BBKPM/BKPM/BP4, RSP, dokter praktek
swasta (DPS) dan instansi
pelaksana lainnya. Pengembangan DOTS
diharapkan dapat
dimulai dengan Puskesmas dahulu untuk memantapkan
jejaring baru
melakukan pengembangan ke Rumah Sakit.
3. Peningkatan
Cakupan dan meningkatkan angka keberhasilan
pengobatan
Peningkatan cakupan
dan meningkatkan angka keberhasilan pengobatan
ini menjadi sangat
penting, karena akan memberikan dampak epidemiologis,
yaitu penurunan
prevalensi.
4. Pemetaan Wilayah
Untuk menyusun
perencanaan yang baik, perlu dilakukan pemetaan terhadap
wilayah yang dapat
meliputi:
· Unit pelaksana,
misal: jumlah RS, jumlah puskesmas, poliklinik
· Sumber daya, misal;
jumlah dan jenis tenaga terlatih, sumber dana,
ketersediaan OAT,
jumlah sarana dan prasarana.
· Cakupan pelayanan,
misal: cakupan penemuan dan pengobatan.
· Mutu pelayanan,
misal: diagnosa sesuai standar, kesalahan laboratorium,
pencatatan yang baku.
· Situasi penyakit.
5. Penetapan Sasaran
dan Target
· Sasaran Wilayah
Sasaran wilayah
ditetapkan dengan memperhatikan besarnya masalah,
daya ungkit dan
kesiapan daerah.
· Sasaran Penduduk
Sasaran pada dasarnya
adalah seluruh penduduk di wilayah tersebut.
· Penetapan Target
Target ditetapkan
dengan memperkirakan jumlah pasien TB baru yang
ada disuatu wilayah
yang ditetapkan secara nasional.
6. Penyusunan
Anggaran
Penyusunan kebutuhan
anggaran harus dibuat secara lengkap, dengan
memperhatikan
prinsip-prinsip penyusunan program dan anggaran terpadu.
Pembiayaan dapat
diidentifikasi dari berbagai sumber mulai dari anggaran
pemerintah dan
berbagai sumber lainnya, sehingga semua potensi sumber
dana dapat
dimobilisasi. Perlu diperhatikan bahwa penyusunan anggaran
didasarkan pada
kebutuhan program, sedangkan pemenuhan dana harus
diusahakan dari
berbagai sumber. Dengan kata lain disebut program
oriented, bukan budget
oriented. Secara umum prinsip dan langkah
menyusun rencana
kegiatan dan penganggaran dapat dilakukan sebagai
berikut:
· Daftarlah semua
kegiatan pada masing masing strategi yang akan
dilakukan untuk
tercapainya tujuan program
· Tentukan pembiayaan
yang paling memungkinkan untuk masing-masing
kegiatan.
· Prioritaskan dana
pemerintah daerah untuk masing-masing kegiatan
prioritas. Adanya
dana pemerintah daerah dapat mengindikasikan bahwa
pembiayaannya akan
lebih berkesinambungan atau setidaknya
menunjukkan adanya sharing
budget.
· Perhatikan adanya
kesenjangan antara daftar kegiatan yang prioritas
dengan kegiatan yang
didanai. Kesenjangan pendanaan ini dapat ditutupi
dengan mengajukan
bantuan donor.
· Hindari kondisi
ketergantungan terhadap donor. Dana pemerintah pusat
maupun daerah
merupakan dana utama kegiatan program, sementara
dana donor merupakan
dana pendukung atau pelengkap.
7. Perumusan
Perencanaan
Setelah selesai
dengan langkah penyusunan perencanaan di atas, maka tiap
unit kerja diwajibkan
merumuskan perencanaan secara lengkap dengan
urutan seperti
dibawah ini:
a. Pendahuluan
b. Analisis situasi
dan besarnya masalah
c. Prioritas masalah
d. Tujuan
e. Sasaran dan target
f. Kegiatan:
g.
Monitoring dan Evaluasi
F. Menyusun Rencana Pemantauan
dan Evaluasi
Dalam perencanaan
perlu disusun rencana pemantauan dan evaluasi. Hal-hal
yang perlu
diperhatikan dalam menyusun rencana pemantauan dan evaluasi
meliputi:
1. Jenis-jenis
kegiatan dan indikator,
2. Cara pemantauan,
3. Pelaksana (siapa
yang memantau),
4. waktu dan
frekuensi pemantauan (bulanan/triwulan/tahunan),
5. Rencana tindak
lanjut hasil pemantauan dan evaluasi.